GIGI Tetap Bertaring !
Hebad ! itu kesan pertamaku begitu masuk stadion Mandalakrida tadi. Kesan wah dan super duper keren, melihat panggung, lampu dan panggung kecil beserta perlengkapan lain untuk mempersenjatai konser GIGI bertajuk Peace, Love `n Respect.
Acara yang sedianya digelar pkl. 20:00 WIB ini molor sekitar 15 menit meskipun penonton sudah berjubel memadati lapangan bahkan sampai di tribun. Lampu yang memancarkan warna merah, kuning, biru dan ungu menambah gagah panggung raksasa itu. Di samping kanan dan kiri panggung terdapat layar tancap giant screen dan sound system gede, siap untuk menggeber jantung GIGIKITA.
Begitu lampu padam, lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi pembuka sebelum Armand cs nongol di panggung, bikin merinding !. Tanpa ada yang mengomando, kawula muda Jogja langsung bernyanyi sembari mengangkat kedua tangan, membuat simbol peace. It`s show time ! begitu lagu kebangsaan Indonesia Raya selesai Armand langsung menggebrak dengan potongan lagu² lama mereka, keren !. Penonton dimanjakan dengan lagu² bertempo cepat dan penuh semangat, ditambah dengan penampilan Armand yang (selalu) enerjik menambah Mandalakrida bertambah hingar bingar dan tak ketinggalan juga, kembang api !
GIGI tetap sama seperti doeloe yang dengan rendah hati mengungkapkan kebahagiaannya, juga rasa terimakasihnya kepada masyarakat Jogja. Armand selaku vocalis GIGI juga menceritakan sejarah kenapa konser tunggal GIGI ini diawali di Jogja, bertepatan dengan tgl 11 Januari. Jogja merupakan kota kenangan bagi GIGI, secara Jogja merupakan kota pertama yang dijamah oleh GIGI di luar Jakarta dan ada banyak kenangan antara GIGI dan Jogja yang tak dapat dipisahkan.
Selanjutnya, GIGI menggebrak lagi dengan lagu² bertempo cepat dan tanpa memberikan sedikit waktu untuk pasukan joket sekedar menggerakkan kepala yang pegal, GIGI kembali beraksi, menyambung lagu yang satu dengan lagu yang lain, enerjik !.
Keren? yupz ! tapi tunggu dulu, di konser ini ada bagian yang lucu, bukan goyangan khas Armand tapi ketika lagu² rohani or lagu² religi dibawakan, kebanyakan dari pasangan muda mudi ini tetap melakukan ritual mereka, berpelukan !. Padahal lagu yang dibawakan oleh GIGI sarat dengan nuansa ketuhanan dan agama. GIGI yang tak hanya piawai membawakan lagu² cinta lengkap dengan bumbu romantismenya, lagu² aneh dan slengean seperti Jomblo dan Nakal, tapi juga mampu membawakan lagu² religi. Lagu Lailatul Qadar yang mengawali deretan lagu² religi dibawakan penuh energi bahkan pasukan joged pun tetap berjingkrak² tak perduli dengan isi atau tema lagu tersebut. Dan parahnya, seperti yang aku bilang tadi, ketika lagu religi berirama lembut dinyanyikan ada pasangan muda mudi yang berpelukan, terutama ketika lagu berjudul Akhirnya.
Oh Tuhan mohon ampun
Atas dosa dan dosa
Selama ini
Aku tak menjalankan perintahMu
Tak pedulikan namaMu
Tenggelam melupakan diriMu
Romantiskah? mungkin, secara Armand membawakannya juga penuh penjiwaan.
Dan selalu ada kejutan, konsep aksi individu masing² personil GIGI (kecuali Armand) patut diacungi empat jempol. Panggung kecil yang berjarak sekitar 20 meter menjadi saksi sangarnya Hendy nggebukin drum. Ketika Armand yang diiringi petikan gitar Dewa Budjana selesai membawakan lagu Akhirnya, suara drum dalam tempo cepat langsung menghajar penonton, fantastis. Disusul Thomas yang mbetotin bass diiringi nuansa ajub² dan permainan gitar Budjana sebagai penutup aksi individual yang sangat manis.
Konser dengan konsep matang ditambah dengan harapan GIGI dan pengorbanan mereka untuk konser ini ternyata dinodai bangsat oknum dudulz nan buzuk, calo. Awalnya, aku pikir calo ini menawarkan tiket masuk, tapi ternyata tidak. Calo yang ini menawarkan masuk tanpa tiket plus bonus tanpa desak²an di pintu masuk utama. Aneh, penonton yang mempunyai tiket masuk, yang nurut dengan aturan justru harus berdesak²an plus bonus dapat omelan kalau barisan belakang meringsek barisan depan. Sedangkan mereka yang membayar Rp.15.000-Rp. 30.000 bisa masuk tanpa tiket plus bonus masuk gpl (ga pake lama). Keparat aparat berseragam yang berjudul Satuan Polisi Pamong Praja membiarkan mereka yang masuk melalui calo itu. Ah, monyed !. Dan Rp. 3000 untuk parkir sepeda motor itu terlalu mahal !. Semoga GIGI tak mencabut ungkapan terimakasih, penghargaan dan menghapus kenangan manis mereka di Jogja, semoga…
note: mungkin tulisan ini tak ditulis urut berdasarkan konser , secara aku juga larut dalam histeria konser tersebut.