30
July - 2010
Friday
SUBSCRIBE TO NEWS
SUBSCRIBE TO COMMENTS

.unintended.web.id

Just Another Worsepress

Archive for the ‘Headline’ Category

Manfaat Sholat

Posted by unintended On June - 5 - 2010ADD COMMENTS

Sholat (salat) adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat
bagi berbagai jenis penyakit! Read the rest of this entry »

Facebook Bikin Otak Lapuk

Posted by unintended On March - 16 - 2010ADD COMMENTS

Tidak ada yang tahu bagaimana Farhan, 10 tahun, bisa memiliki akun di Facebook, bahkan kakaknya sendiri. Di jejaring sosial itu, selain memiliki ratusan teman, dia punya hewan peliharaan alias pet society.

Menurut kakaknya, Rena, Farhan sampai menyempatkan diri ke warung Internet dulu untuk membuka Facebook sebelum berangkat ke sekolah. Di rumah, jika Rena sedang menggunakan komputer jinjing (laptop), adiknya itu juga suka ikutan untuk sekadar chatting dengan teman sekolahnya.

Anak kelas IV Sekolah Dasar Sukatani, Cimanggis, Depok, ini bakal ngambek seharian jika dilarang. Sekarang orang tua Farhan sudah membatasi dia bermain Facebook, cukup 1 jam selama satu hari. Itu dilakukan sebelum tidur jika sudah belajar.

Jejaring sosial Facebook memang sudah sedikit basi bagi beberapa kalangan. Meski begitu, memelihara hewan di dunia maya atau chatting dengan teman masih sangat mengasyikkan bagi anak-anak ketimbang membaca buku, apalagi bermain layangan.

Sejumlah penelitian yang disampaikan Novian Triwidia Jaya, konsultan parenting dan life coaching dari Dynamic Brain, menunjukkan adanya dampak buruk Facebook terhadap anak, meski tidak spesifik langsung.

Novian mengatakan kemampuan spasial anak di bawah 10 tahun akan menurun jika mereka di depan komputer lebih dari 2 jam. “Kemampuan spasial itu adalah kemampuan si anak untuk berimajinasi atau membayangkan sesuatu,” ujar Novian saat ditemui di Tea Addict Lounge, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.

Di Facebook atau jejaring sosial lainnya, macam Friendster, kata dia, semua sudah ada di situ, mulai bentuk emosi hingga gerakan-gerakan. Sehingga si anak tidak lagi sering berimajinasi, yang mengakibatkan kemampuannya tidak terasah. Mereka, menurut Novian, nantinya sulit memecahkan masalah logika.

Lebih buruk lagi, Facebook akan membuat kecerdasan sosialisasi anak menjadi rendah karena terbiasa berkomunikasi satu arah. Mereka cuma terbiasa chatting atau mengirim e-mail. Padahal, menurut Novian, antara keyboard dan verbal sangat berbeda. “Di masa dewasanya, mereka jadi takut berbicara di depan umum, meski piawai dalam mengetik,” tutur lulusan lembaga khusus analisis perilaku DISCovery Amerika ini.

Belum lagi Facebook memiliki aplikasi game yang bisa membuat si anak jadi tambah adiksi. Untuk itu bahkan Novianto mengatakan si anak butuh obat untuk meredakan adiksinya itu.

Biasanya, awal-awal mereka bermain selama 1 jam, besoknya menjadi 2 jam dan terus bertambah. “Tidak pernah ada limit untuk kepuasan game. Karena game untuk sampai tamat itu bertingkat-tingkat,” tuturnya.

Memang ada penelitian yang mengatakan anak menjadi pintar membuat strategi jika main game. Tapi penelitian lain menyebutkan, si anak akan terlatih untuk egoistis. Dia bebas mengulang permainan jika jagoannya kalah. “Sehingga dia tidak terbiasa untuk kalah,” ujar penulis buku Super Mom ini.

Saran Novian, anak boleh mengakses Facebook, tapi ada limitasi dari orang tua. Orang tua mengatur anak dengan teladan dan mengajak mereka berkomitmen. Misalnya orang tua membatasi bermain Facebook cukup 2 jam pada Sabtu dan Minggu saja.

Lakukan diskusi saat anak sedang merasa senang. Yang pasti, orang tua harus melek teknologi. Jangan menganggap si anak hebat karena bisa bermain komputer, tanpa tahu mereka membuka situs apa. Selain itu, usahakan pendaftaran akun jejaring sosial memakai e-mail orang tua, sehingga segala sesuatu yang masuk bisa dilihat.

Jika dalam perjalanan si anak masih bandel juga, orang tua memiliki hak prerogatif untuk menyimpan modem atau alat lainnya. Orang tua juga berhak mengatur uang saku si anak agar dia tidak kabur ke warnet. Novian sendiri menganjurkan agar telepon seluler diberikan kepada anak pada usia 16 tahun ke atas.

Dampak Buruk

1. Anak jadi antisosial. Anak yang seharusnya belajar sosialisasi dengan lingkungan justru berkomunikasi di dunia maya. Kemampuan verbalnya menjadi menurun.
2. Dari beberapa literatur, kecanduan jejaring sosial juga berdampak pada kesehatan fisik. Sebab, terlalu banyak melotot di depan monitor tanpa pernah berolahraga bisa berisiko bagi kesehatan. Si anak akan mudah menderita obesitas atau kegemukan, kemudian mudah terkena penyakit pencernaan karena lupa makan dan gangguan pada mata.
3. Memotong waktu belajar. Membaca buku dirasakan anak tidak semenarik bermain Facebook, meski belum ada penelitian bahwa jejaring sosial ini menyebabkan nilai rapor si anak jadi buruk.
4. Tidak ada komunikasi dalam keluarga. Si anak lebih mementingkan temannya di dunia maya. Keluarga dinomorduakan.
5. Anak kecanduan pornografi. Di Facebook, si anak tak kesulitan menemukan grup dengan content seks dan hal yang berbau porno. (tempointeraktif.com)

Vredeburg Dilengkapi Pemandu

Posted by unintended On April - 11 - 20093 COMMENTS

Pemerintah daerah perlu lebih memiliki kepedulian terhadap kekayaan dan aset budaya bernama museum, agar tingkat kunjungan museum dapat ditingkatkan. Mengingat museum bukan sekadar tempat menyimpan barang kuno namun juga media pelestari, edukasi dan rekreasi. Selain itu, pengelola museum juga perlu aktif dan kreatif menciptakan suasana yang diinginkan masyarakat mengingat kunjungan museum masih belum menjadi prioritas bagi Bangsa Indonesia. Direktur Museum Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar Dra Intan Mardiana MHum mengemukakan hal tersebut pada wartawan di Museum Benteng Vredeburg, belum lama ini. Hal tersebut dikemukakan usai peresmian hotspot area serta pemandu perjuangan di museum tersebut. Sebelumnya dijelaskan Kepala Museum Benteng Vredeburg, Ediningsih MHum bahwa untuk selanjutnya para pemandu piket akan mengenakan busana-busana spesifik dalam menjalankan tugasnya. Saat ini mereka mengenakan pakaian Kolonial Belanda. Lain waktu akan dikenakan pakaian pejuang, bahkan pakaian yang dikenakan mereka yang dikenal sebagai pahlawan. “Semua dilakukan secara bertahap,” katanya. Dikatakan Intan Mardiana citra berbeda dengan yang lain, haruslah diciptakan. Jika dulu masyarakat masih object oriented sekarang hal itu sulit untuk dilakukan. “Kalau citra tidak diciptakan, masyarakat tidak akan datang ke museum,” tandasnya. Perubahan paradigma ini menurutnya harus dilakukan sehingga museum bisa ‘gaul’. Perubahan paradigma ini bisa dari pemandu, informasinya, penelitian maupun pameran yang dilakukan. Intan mengakui, museum sekarang kurang memberikan apa yang diharapkan masyarakat, seperti yang didapat dari mall misalnya, yang begitu kemilau. Karena itulah, kreativitas pengelola yang membuat kegiatan atau program yang aktual dari benda-benda atau bangunannya, menjadi sangat diperlukan. Sehingga apa yang ada di museum menjadi dimengerti dan bisa hidup. “Tentu ini harus direncanakan lebih awal bahkan menjadi calender of events,” tambahnya. Kepala Museum Benteng Vredeburg Ediningsih mengemukakan, jika kalangan perbelanjaan mengenal istilah one stop shoping maka museum ini memiliki obsesi sebagai one stop understanding history bagi DIY. Dalam idealisme ini terkandung makna bahwa Museum Benteng Vredeburg ke depan adalah museum yang menjadi tujuan masyarakat untuk mengenal dan memahami sejarah Yogyakarta. Sumber: http://kr.co.id